Kampanye menjelang Pemilihan Umum 2009 tak harus dilakukan dengan berorasi atau memasang poster. Berbagai usaha bisa dilakukan calon anggota legislatif atau caleg untuk menarik pemilihnya. Misalnya, menempelkan foto diri dan nomor urut partai di berbagai tempat yang dianggap strategis.
Berdasarkan pantauan tim SCTV,Senin (9/2), jika melintas di jalan protokol maupun jalan-jalan sempit di Jakarta dan sekitarnya, maka pemandangan kendaraan yang berhias foto dan nomor caleg kerap ditemui. Cara seperti itu memang diyakini sebagian caleg sebagai alternatif berkampanye yang cukup efektif. Selain juga berkampanye dengan menggunakan berbagai atribut bergambar nomor partai, foto dan nomor urut yang terpampang di pohon.
Tak hanya kendaraan umum yang dihias atribut. Banyak pula mobil pribadi yang ditempeli atribut caleg atau parpol. Uang yang dikeluarkan untuk menghias mobil pun tak sedikit, bisa menghabiskan Rp 2 juta hingga Rp 5 juta untuk setiap mobil.
Sementara untuk kendaraan umum, biasanya sang caleg harus memberi uang secukupnya agar bisa menempel foto dirinya.
Sudah menjadi hal yang umum, jika pemilu digelar maka jumlah uang yang beredar di masyarakat pun akan luar biasa jumlahnya. Satu caleg saja bisa mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk mengkampanyekan dirinya.(UPI/Vivi Waluyo dan Nofrianus Barens)
Menjelang Pemilihan Umum, elite politik Indonesia saling lempar komentar dan sindiran. Pekan lalu, sindiran Megawati Sukarnoputri dibalas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lewat pantun. Kini giliran Wakil Presiden Jusuf Kalla berkomentar soal isu yang sama.
Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal ada petinggi TNI yang mengkampanyekan ABS (asal) bukan presiden berinisial S ditanggapi serius oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat Agustadi Sasongko Purnomo. Senin (2/2), Kasad mengumpulkan para purnawirawan TNI AD untuk menegaskan kembali netralitas TNI. “Kita tegaskan di sini, TNI Angkatan Darat pada khususnya dan TNI umumnya, akan netral dalam Pemilu. Dalam arti kita tak memihak kepada golongan apapun, tidak memihak kepada salah satu parpol atau kelompok-kelompok yang lain,” kata Kasad Agustadi di Jakarta.
Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perihal kampanye negatif asal bukan calon presiden S atau ABS dinilai bagai menyodok angin karena hal itu tak ada. “Beliau [Presiden] mengatakan sendiri tapi beliau juga yakin itu tidak ada. Kenapa itu disampaikan,” ungkap pengamat politik, J. Kristiadi dalam dialog di Liputan 6 Petang, Jakarta, Senin (2/2).
Partai politik gencar berkampanye lewat iklan menjelang Pemilu 2009. Iklan partai politik belakangan mulai bertebaran baik di televisi, koran, majalah, dan radio. Nilai yang harus dikeluarkan untuk memperkenalkan diri serta partai dan mengangkat citra cukup besar. Biaya mahal beriklan tak menjadi halangan bagi parpol untuk menarik hati masyarakat.
Senin, 2 Februari 2009 | 21:02 WIB Laporan Kompas
Headline News / Hukum & Kriminal / Senin, 02 Februari 2009 17:04 WIB
Metro Sports / Olahraga / Minggu, 01 Februari 2009 23:27 WIB
Metro Sports / Olahraga / Senin, 02 Februari 2009 13:43 WIB












Last Comment