Satu petang di ujung tahun. Langit warna mengelabu. Awan-awan yang berat mirip busa kopi susu tarik dalam gelas besar. Petang ujung tahun dalam lebih sepuluh tahun hampir-hampir tak ada pemandangan baru.
Di sebuah pusat perbelanjaan dimana kotak-kotak, botol-botol dan segala bentuk barang berteriak-teriak, saling menyumpal dan saling menyikut, seorang pemuda mengisi keranjangnya dengan jagung muda, dan beberapa potong ayam, margarin, beberapa potong roti, capucino dan satu pak kaleng bir.
Seorang gadis lain terdiam diatas balkon, berpikir tentang gaunnya yang berwarna api. Orang tua bertopi bambu di trotoar pinggir jembatan Ampera atas Musi telah berdiri sejak tengah hari, menunggu pikulannya dengan barang jualan berwarna-warni gembira. Lalu lintas kendaraan mulai menyempitkan ruang pejalan kaki.
Di depan sebuah telaga, gadis resepsionis hotel menunggu bunyi telepon. Sesekali dia mencoret-coret sesuatu pada kertas kecil warna krem. Beberapa tamu telah memesan kamar dengan meneleponnya. Jarum jam dinding di depan sang resepsionis berjalan dengan sangat bersemangat. Continue reading ‘Akhir Ujung Tahun’
Last Comment